Jakarta — Konflik bersenjata kembali meletus di wilayah Arab, memicu gelombang pengungsian massal dan memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung di kawasan tersebut. Peristiwa ini terjadi di kota Aleppo, Suriah, di mana bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata Kurdi kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Menurut laporan, pertempuran yang semakin intens di beberapa distrik Aleppo telah memaksa ratusan ribu warga sipil meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Gereja-gereja dan bangunan sipil lainnya kini difungsikan sementara sebagai tempat perlindungan bagi para pengungsi yang menghadapi ancaman langsung dari konflik tersebut.
Kekerasan ini mencerminkan salah satu eskalasi terbaru dalam konflik yang sudah berlangsung lama di Suriah, di mana berbagai pihak bersaing memperebutkan kendali wilayah strategis. Kawasan Aleppo — pernah menjadi pusat pertempuran sengit sejak awal perang saudara — kembali menjadi fokus bentrokan setelah beberapa upaya gencatan senjata sebelumnya menunjukkan tanda-tanda keretakan.
Akibat bentrokan yang meningkat, warga sipil menghadapi risiko tinggi terhadap keselamatan mereka, termasuk kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan darurat. Organisasi kemanusiaan internasional sebelumnya telah mengingatkan bahwa situasi di wilayah konflik seperti Suriah rentan mengalami krisis yang lebih parah jika pertempuran tidak segera mereda.
PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya terus menyerukan penghentian kekerasan dan akses lebih luas bagi bantuan bagi para pengungsi serta warga yang terjebak di daerah konflik. Sementara itu, upaya mediasi dan diplomasi internasional masih berlangsung, tetapi solusi politik yang komprehensif belum terlihat di tengah meningkatnya ketegangan.
📌 Sumber Berita:
– CNBC Indonesia — “Perang Baru Pecah di Negara Arab, Ratusan Ribu Warga Mengungsi” (Nasional, 9 Januari 2026).